Perkembangan Sapi Perah Di Indonesia

Bangsa sapi perah yang asli dari Indonesia dapat dikatakan tidak ada. Sapi perah di Indonesia berasal dari sapi impor dan hasil persilangan antara sapi impor dengan sapi lokal. Menurut Dirjen Peternakan (1996) pada tahun 1995 di Indonesia terdapat sekitar 200.000 ekor sapi perah dan hampir seluruhnya merupakan sapi FH dan keturunannya. Sapi FH dimasukkan di Indonesia dari negeri Belanda atau Australia. Sejak tahun 1972 mulai diimpor semen beku dari New Zealand, dan mulai tahun 1979 dilakukan impor sapi dara FH langsung dari Australia dan New Zealand. 

Sebelum tahun 1979 sapi-sapi FH murni diternakkan antara lain di :
  • Rowoseneng, Temanggung
  • Baturraden, Purwokerto
  • Lembang, Bandung
  • Pasar Minggu, Jakarta.

Produksi susu sapi FH di Indonesia tidak setinggi di tempat asalnya. Hal ini banyak dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain : iklim, kualitas pakan, seleksi yang kurang ketat, manajemen dan mungkin juga sapi yang dikirim ke Indonesia kualitas genetiknya tidak sebaik yang diternakkan di negeri asalnya. Sapi FH murni yang ada di Indonesia rata-rata produksi susunya sekitar 10 liter per hari dengan calving interval 12 – 15 bulan dan lama laktasi kurang lebih 10 bulan, atau produksi susu rata-rata 2.500 – 3.000 liter per laktasi.


Hasil silangan antara sapi lokal dengan sapi FH sering disebut sapi PFH (Peranakan Friesian Holstein). Sapi ini banyak dipelihara rakyat terutama di daerah Boyolali, Solo, Ungaran, Semarang dan Yogyakarta. Dapat dijumpai pula sapi PFH di daerah Pujon, Batu, Malang dan sekitarnya. Warna sapi PFH seperti sapi FH tetapi sering dijumpai warna yang menyimpang, misalnya warna bulu kipas ekor hitam, kuku berwarna hitam dan bentuk tubuhnya memperlihatkan bentuk sapi lokal, kadang-kadang masih terlihat adanya gumba yang meninggi.

Berdasarkan asal-usulnya sapi perah di Indonesia, dapat digolongkan menjadi tiga kelompok (berdasarkan kemurnian darah bangsanya): yaitu :
  • Sapi bangsa murni (pure breed) FH. Sapi FH murni, termasuk sapi-sapi FH yang diimpor langsung dari breeder (dilengkapi dengan sertifikat), dan juga sapi kelahiran di Indonesia yang induknya FH murni serta semen atau pejantannya juga merupakan FH murni.
  • Sapi Persilangan atau Peranakan FH (FH crossbred). Ini merupakan sapi hasil persilangan antara sapi FH murni dengan sapi lokal, dan diketahui tingkat kemurnian darah FH nya (berapa persen darah FH nya).
  • Sapi non discript. (Sapi yang tidak jelas kemurnian bangsanya). Termasuk sapi non discript adalah sapi-sapi yang jelas bukan sapi FH murni, tetapi tidak diketahui dengan jelas tingkat kemurnian darah FH nya dan mempunyai ciri-ciri seperti sapi FH.

Pada umumnya untuk sapi crossbred dan sapi non discript seperti diatas, di Indonesia biasa disebut sapi Peranakan Friesian Holstein (PFH).

buttons=(Accept !) days=(20)

Our website uses cookies to enhance your experience. Learn More
Accept !
To Top