Cara Budidaya Ternak Kelinci

Cara Budidaya ternak kelinci mulai dari jenis, pemeliharaan, kandang, pakan, perawatan dan kontrol penyakit dan analisis usaha baik untuk kelinci pedaging maupun hias.

Kelinci hanya ditemukan pada zaman glasial di daerah Peninsula. Pada mulanya Orytolagus cuniculus berasal dari Spanyol tetapi menyabar ke Mediterania Barat dan Eropa. Kelinci mula-mula dijinakkan di Afrika dan dimanfaatkan kira-kira 300 tahun yang lalu. Kelinci mulai dibawa ke Amerika dari Eropa pada tahun 1800-an. Bangsa kelinci yang dikembangkan di Amerika tidak ada yang berasal dari negara itu sendiri. Masing-masing hewan mempunyai genus yang berbeda dengan kelinci pemeliharaan (genus Orytolagus) yang secara biologis sangat berbeda sehingga tidak akan terjadi perkawinan silang antar genus yang menghasilkan anak. Oleh karena itu bangsa kelinci yang ada pada saat ini merupakan bangsa kelinci impor.

gambar 1. budidaya ternak kelinci

Kelinci pertama kali ditemukan di Afrika beberapa ratus tahun yang lalu, kemudian diternakkan orang di daerah-daerah sekitar Laut Tengah. Setelah itu dari hasil peternakan di daerah Laut Tengah, kelinci tersebar di Eropa, terutama di Perancis, Polandia, Inggris, Belanda dan lain sebagainya. Bersamaan dengan penyebaran bangsa-bangsa Eropa, kelinci masuk ke belahan bumi yang lain, diantaranya Australia dan New Zealand. Setelah Perang Dunia II kelinci masuk dan berkembang di Amerika.

Perkembangan seterusnya jenis Californian mulai berkembang. Jenis New Zealand sendiri sebenarnya berasal dari Amerika dan berkembang di Selandia Baru. Jenis Californian dan New Zealand adalah kelinci-kelinci yang dikembangkan pertama kali secara komersial dengan penelitian-penelitian pada laboratorium dan riset dengan intensif sampai akhirnya menjadi salah satu kelinci unggul baik pedaging maupun hias.

Menurut beratnya kelinci dibagi menjadi 3 golongan, yaitu : 
  • golongan kecil dengan berat 0,4 sampai 2 kg antara lain Polish Dutch, Nederland dan Dwarf Hop,
  • golongan sedang dengan berat 2,0 sampai 4,0 kg contohnya New Zealand.White , Californian, Caroline 
  • golongan besar dengan berat 5,0 sampai 8,0 kg contohnya Giant Chirchilla, Flemish Giant dan Cheeke Red Giant.


Saat ini ada tiga macam jenis kelinci di Indonesia yang mempunyai tanda-tanda berdasarkan bentuk dan proses adanya dalam sejarah ternak kelinci di Indonesia, yaitu kelinci lokal, unggul dan kelinci crossing atau persilangan.

Bangsa (jenis) kelinci

Kelinci american chincilla

Kelinci ini mempunyai tiga varietas yaitu jenis standard (berat dewasa 2,5 sampai 3 kg), jenis berat (berat dewasa 4,5 sampai 5 kg) dan jenis giant (berat dewasa 6 kg). Kelinci ini dimanfaatkan untuk produksi kulit maupun daging. Dikembangkan dari kelinci import Perancis 1919. warna idealnya adalah keseluruhan bulu berwarna abu-abu (Chincilla).

Kelinci anggora 

Kelinci angora dimanfaatkan sebagai penghasil mohan. Berwarna putih dengan wool yang tumbuh panjang. Pertumbuhan wool biasanya mencapai 2,5 cm per bulan dan wool ini dipotong setiap 3 bulan dengan berat dewasa 2,5 sampai 3,5 kg.

gambar 2. foto kelinci anggora

Kelici Champangne d’Argen

Kelici ini dapat juga disebut French Silver. Berkembang di Perancis lebih dari 100 tahun. Bulu atau fur memegang peranan penting dalam industri pakaian. Pada sat lahir berwarna hitam, tetapi umur 3-4 bulan berwarna perak atau putih susu dengan warna kulit biru tua. Berat jantan dewasa 4,5 kg dan berat betina 4,5 kg.

Kelinci Californian

Kelinci ini pertama kali lahir di Amerika Serikat tahun 1923. mempunyai ciri-ciri bertubuh putih dengan telinga, hidung, ekor dan kaki berwarna kelabu tua atau hitam, matanya berwarna merah muda. Berat dewasa untuk pejantan 4 kg dan betina 4,25 kg. Kelinci ini mempunyai pundak yang lebar, punggung berdaging dan mempunyai persentase karkas (dressing persentage) yang baik. kelinci ini mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan, merupakan tipe kelinci pedaging dan hias, cepat tumbuh dan mothering abilitynya baik.

Kelinci carolina

Kelinci ini Merupakan kelinci tipe pedaging dengan litter sizenya banyak. Sifat lain yang dimiliki kelinci ini antara lainwarna bulunya putih polos dengan mata berwarna pucat atau bule. Berat dewasanya sekitar 5 Kg, selain itukelinci ini mudah dipelihara, cepat menyesuaikan diri dengan lingkungan serta tahan terhadap penyakit.

Kelinci Chekered Giant

Kelinci ini merupakan jenis kelinci yang sangat besar, disukai peternak, bibit sebagai penghasil daging. Kelinci ini berwarna hitam putih dengan hitam pada bagian punggung bawah samping dan lingkaran sekeliling mata.

Kelinci lop

Kelinci ini merupakan kelinci tipe pedaging dan hias. Kelinci ini juga memiliki ciri khusus antara lain telinganya yang tidak tegak , tetapi jatuh kebawah/koploh, warna bulu coklat, kuning, Hitam, dan bercak-bercak putih. Memiliki mata yang berwarna hitam dansorotannya tajam. Berat dewasanya sekitar 4,5 kg, dapat mengasuh anaknya, air susunya berlimpah dan cepat tumbuh, selain itu daging yang dihasilkan lebih padat

Kelinci latin

Kelinci ini merupakan jenis kelinci pedaging yang baik karena tipe dan ukurannya. Berat dewasa 4 sampai 4,5 kg, dikenal dengan 9 warna dan warna yang paling terkanal adalah putih. Kelinci ini menonjol karena warnanya yang menyala dan kulitnya halus.

Kelinci lokal

Kelinci ini adalah kelinci yang masuk ke Indonesia sejak dulu, dibawa oleh orang Eropa atau Belanda sebagai ternak kesayangan atau hias. Kelinci ini mempunyai ciri-ciri bentuk dan bobotnya kecil sekitar 1,5 kg. Bulunya bervariasi yaitu hitam, putih dan abu-abu. Bila diperhatikan kelinci lokal mempunyai keturunan Belanda dan kelinci New Zealand. Karena kawin silang yang tidak terkontrol dari generasi ke generasi, faktor makanan, faktor cuaca dan faktor pemeliharaan dan lain-lain, terjadilah tipe kelinci lokal meskipun kelinci ini bukan berasal dari Indonesia asli

Kelinci New Zealand

Kelinci ini merupakan jenis kelinci yang terpopuler di Amerika Serikat. Kelinci New Zealand terdiri dari New Zealand merah, matanya berwarna coklat sedangkan New Zealand putih warna matanya merah. Kelinci ini berukuran sedang dan merupakan penghasil daging dan fur yang sangat baik. Berat dewasa 4 sampai 5 kg, kelinci ini juga cepat dewasa

kandang kelinci

Ada beberapa pola kandang kelinci dapat dilaksanakan yang disesuaikan dengan modal peternak, keadaan lingkungan, keadaan bahan, dan keadaan lokasi peternakan. Kandang berdasarkan penempatannya dibedakan menjadi dua yaitu pertama kandang dalam ruangan yaitu kandang yang diletakkan didalam bangunan besar. Kandangnya hanya berupa sangkar saja, atap  dan dindingnya sudah dijamin oleh Bangunan Induk. Kedua kandang diluar bangunan yaitu kandang yang tidak diletakkan didalam bangunan induk sehingga kandang memerlukan konstruksi yang sesuai dengan syarat baik untuk kandang kelinci. Sedangkan berdasarkan sistem pengelolaannya kandang untuk kelinci dapat dibagi menjadi dua yaitu kandang battery dan kandang postal

Kandang kelinci biasa di bangun dalam berbagai bentuk sesuai dengan selera masing-masing peternak atau tempat di mana kandang itu hendak di buat.Oleh karena itu kandang kelinci bermacam–macam bentuk, antara lain:
  • Sistem Postal. Bangunan kandang  kelinci tanpa halaman pengumbaran sehingga tidak lepas sama sekali ,tetapi mereka sepanjang hari dan malam selalu kandang .
  • Sistem Ren. Bangunan kandang kelinci bagi kelompok kelinci yang di beri halaman pengumbaran, sehingga mereka dapat bermain secara bebas di halaman. Halaman tersebut lebih baik apabila di buat dari batu bata merah, sehingga keadaan tetap kering.

Pertumbuhan

Pertumbuhan adalah perubahan ukuran yang meliputi pertumbuhan berat hidup, dimensi linier, bentuk dan komposisi tubuh, di mana termasuk pula perubahan komponen-komponen tubuh seperti lemak, otot, protein dan abu pada karkas. Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan adalah jenis kelamin, nutrisi dan fisiologi genotif.

Saat kelinci dipelihara selama kurang lebih tiga minggu, pemberian pakan diberikan dua kali sehari yaitu berupa hijauan (kangkung) dan juga konsentrat. Jumlah pemberian pakan tersebut disesuaikan dengan berat badannya. Pemberian pakan atau ransom kelinci terdiri dari 40% konsentrat dan 60% hijauan

Feed intake adalah sejumlah pakan yang diberikan dikurangi dengan jumlah sisa pakan. Pada umumnya feed intake kelinci betina akan lebih besar dari pada kelinci jantan. Hal ini disebabkan kelinci betina akan membutuhkan nutrien yang lebih banyak untuk siklus estrus dan kebuntingan.

Kebutuhan pakan untuk ternak berbeda-beda tergantung dari spesiesnya, ukuran ternak, tingkat pertumbuhan, penyakit, kondisi ternak, lingkungan dan defisiensi nutrien tertentu. Dalam kondisi normal pakan sangat berpengaruh terhadap perkembangan dan pertumbuhannya.

Average Daily Gain (ADG) adalah rata-rata kecepatan pertambahan berat badan harian yang diperoleh dengan berat akhir dikurangi berat awal kemudian dibagi lama pemeliharaan. ADG normal untuk kelinci adalah 10 sampai 15 gram dan yang mempengaruhi ADG adalah mekanisme dan kecepatan pertumbuhan dari ternak itu.

Feed Conversation Ratio (FCR) atau konversi pakan adalah besarnya perubahan dari pakan yang dikonsumsi menjadi pertambahan berat badan (gain). dalam sehari kelinci memerlukan kadar ransum dengan kadar protein kasar sebesar 12 sampai 15 %, lemak 2 sampai 3,5 %, serat kasar 20 sampai 27%, dan mineral 5 sampai 6,5 %. Sedangkan kebutuhan untuk kelinci yang sedang tumbuh adalah sebesar 16% protein kasar, 10 sampai 12%serat kasar dan energi 2500Kkal/Kg.
Pemeliharaan

Handling

Cara memegang dan mengangkat kelinci tidak boleh dilakukan sembarang, sebab dapat menimbulkan hal-hal yang mengganggu bagi kelinci. Menangkap kelinci tidak boleh dengan kasar, tetapi harus tenang dan tidak boleh menimbulkan kepanikan bagi kelinci, apalagi bila kelinci itu sedang bunting atau menyusui. Menangkap dan mengangkat kelinci pada telinganya memang paling mudah, tetapi cara itu sebenarnya adalah kesalahan besar sebab telinga kelinci sangat sensitif dan tidak kuat menahan berat badan. Apalagi bila bobot badan kelinci cukup berat atau besar, hal ini akan merusak otot dan syaraf pada telinga. Bila kelinci berontak mungkin otot lehernya akan terganggu sehingga posisi kepala akan miring.

Membedakan kelamin kelinci

Sexing merupakan cara untuk membedakan jenis kelamin kelinci. Pada kelinci yang umurnya kurang dari 3 minggu sulit dibedakan antara jantan dan betina. Sexing dapat diketahui saat kelinci berumur 31 hari. Sampai umur 1,5 bulan Testis kelinci belum terlihat, demikian juga Penisnya masih samar-samar. Pada kelinci yang sudah dewasa kelamin, perbedaan itu terlihat dengan mudah, yang mempunyai kantong pelir itulah yang jantan

Cara sexing dengan meletakkan punggung anak kelinci pada salah satu tangan sehingga kepala menghadap ke atas. Dengan tangan kiri kedua kaki depannya dipegang, ibu jari dan jari telunjuk tangan kanan diletakkan didepan dan belakang alat kelamin kemudian alat kelamin ditekan sehingga alat kelamin tadi tersembul tonjolan

Pakan Kelinci

Jenis makanan untuk kelinci adalah: daun-daunan, sayur-sayuran seperti kangkung, bayam dan umbi-umbian seperti wortel, ketela rambat dan biji-bijian setelah ditumbuk seperti beras dan kedelai, dedak, dan bekatul merupakan makanan yang sehat untuk kelinci.

Kebutuhan pakan kelinci tiap hari adalah hijauan dan umbi-umbian untuk kelinci dewasa 0,5 sampai 1 kg/ekor/hari. Konsentrat 200 sampai 300 gr/ekor/hari, kadar protein 12%. Untuk kelinci 1 sampai 6 bulan kadar protein 16% dan ME 2500 kcal, untuk kelinci menyusui kadar protein 17% dan ME 2500 kcal.

Biji-bijian yang keras, selain dapat diandalkan kandungan nutriennya juga diharapkan dapat menghambat pertumbuhan gigi kelinci agar tidak cepat memanjang. Pada kelinci yang digemukkan, biji-bijian seperti jagung sangat baik diberikan sebab akan mempercepat perkembangan dan ternak menjadi cepat gemuk. Hay perlu disediakan, sehingga sewaktu-waktu dibutuhkan (kelinci mencret, stok hijauan terbatas) hay dapat dikonsumsi.

Perawatan dan Kontrol Penyakit

Kelinci sangat peka terhadap penyakit dan lingkungan yang kotor. Untuk mencegah penyakit harus diperhatikan kebersihan kandang, pakan dan tempat minum. Semuanya harus bersih dari sisa-sisa pakan dan feses. Selain itu, kelinci yang  sakit harus dipisahkan dari kelinci yang sehat. Ada beberapa macam penyakit kelinci antara lain :

  • Kulit kudis. Penyakit ini disebabkan oleh kutu kecil. Gejalanya kulit berwarna merah dan bersisik, gatal dan bulu rontok. Pengobatan dengan memandikan kelinci dengan larutan belerang 
  • Kudis telinga. Penyakit ini disebabkan sejenis kutu kecil. Gejalanya kepala sering digelengkan, telinga sering digaruk, kulit telinga dalam keras, bersisik dan coklat. Diobati dengan Zalf dan Scabisix 
  • Enteristik (berak encer). Penyakit enteristik (berak encer) atau sering disebut juga diare. Gejalanya nafsu makan hilang, badan lemah, bulu kasar, perut kembung dan diare bercampur nanah. Pengobatan dengan minum air yang diberi larutan Choleretetraciclin dan Cxytobracylin 
  • Coccidiosis (berak darah). Penyakit ini memiliki gejala antara lain mencret bercampur darah, perut kembung dan kehilangan berat badan. Pencegahannya dengan membuat lantai kering dan bersih. Dapat diobati dengan Sulfanox, Naxol dan Sulfastrong 
  • Pneumonia (radang paru-paru). Penyakit ini memiliki gejala seperti sesak nafas, mencret, paru-paru lembab, mata dan telinga kebiruan. Penanganan penyakit ini dengan di obati dengan pemberian Sul-Q-nox pada pakan atau air minum
  • Radang selaput mata. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri dengan gejala air mata yang selalu keluar atau bernanah dan bulu di sekitar mata kusam. Pengobatan dengan Zalf, injeksi antibiotik Stretomicus dan pinicilin 


Persentase Karkas

karkas pada ternak kelinci adalah bagian yang sudah dipisahkan dari kepala, jari-jari kaki, kulit, ekor dan jerohan. Besarnya bobot karkas tergantung pada besar kecilnya tubuh kelinci, penanganan kelinci, jenis kelinci, sistem pemeliharaan, kualitas bibit, macam dan kualitas pakan, serta kesehatan ternak. Berat karkas yang baik berkisar antara 40 sampai 52 % dari berat badan hidupnya. Basuki (1985), menyatakan bahwa  persentase karkas segar kelinci lokal jantan adalah 44.87 % dan yang betina adalah 42.43 %.

Meat Bone Ratio (MBR)

meat bone ratio adalah perbandingan antara berat daging dan berat tulang dan MBR untuk kelinci yang berproduksi baik adalah 5:1, perbandingan ini tergantung pada kondisi karkas.

Cara pemotongan
Cara Pemotongan. prinsip pemotongan adalah memutuskan saluran darah balik (vena jugularis) pada bagian leher. Terdapat 3 metode dalam pemotongan yaitu metode pemukulan, pematahan, dan metode penyembelihan.

Cara menguliti
Kelinci digantung pada suatu tempat dengan kaki belakang dipotong, kemudian kulit dibuka dari pergelangan kaki kanan melalui anus sampai pergelangan kaki kiri atau sebaliknya, kemudian kulit ditarik ke bawah sampai terlepas dari badannya

Komposisi Tubuh
Pada pemotongan kelinci akan diperoleh karkas yang merupakan campuran daging dan tulang. Untuk memperoleh perbandingan daging dan tulang, maka tulang dapat dipisahkan dari daging. Salah satunya adalah dengan cara merebus daging tulang tersebut, kemudian dipisahkan antara daging dan tulangnya sehingga akan diperoleh MBR.  persentase karkas dipengaruhi oleh makanan dan breed.

Sistem Digesti

Kelinci mempunyai sistem pencernaan monogastrik atau berlambung tunggal. Alat pencernaan terdiri dari 42 % coecum, 36 % perut besar yaitu ventriculus dan stomachi (Kamal, 1982). Mikrobia atau bakteri banyak terdapat dalam coecum yang berguna untuk sintesa pakan menjadi asam amino dan vitamin B-kompleks. Mikrobia tersebut mikrobia flavin, pantotenat serta vitamin B12. Kadar vitamin B dan protein dalam kotoran kelinci relatif tinggi jika dibandingkan kotoran ternak lain. Kelinci memakan kotoran dari anus pada malam hari untuk memenuhi kekurangan protein dan vitamin b 

Sistem pencernaan pada kelinci adalah sebagai berikut:
  1. Mulut. Mulut merupakan tempat terjadinya pencernaan secara mekanik yaitu dengan jalan mastikasi bertujuan untuk memecah pakan agar menjadi bagian yang lebih kecil dan mencampurnya dengan saliva yang mengandung enzim amilase yang mengubah pati menjadi maltosa agar mudah ditelan 
  2. Oesophagus. Oesophagus merupakan lanjutan dari pharing dan masuk ke dalam cavum abdominale dan bermuara pada bagian ventriculus
  3. Ventriculus. Lambung kelinci disebut juga ventrikulus yang terdiri dari tiga bagian yaitu bagian awal (kardia), bagian tengah (fundus) dan bagian akhir (pilorus). Ventrikulus berfungsi sebagai tempat penyimpanan pakan dan tempat terjadinya proses pencernaan dimana dinding lambung mensekresikan getah lambung yang terdiri dari air, garam anorganik, mucus, HCl, pepsinogen dan faktor intrinsik yang penting untuk efisiensi absorbsi vitamin B12. Keasaman getah lambung bervariasi sesuai dengan macam makanannya. Pada umumnya sekitar 0,1N atau ber-pH lebih kurang dari 2.
  4. Usus halus. Usus halus terdiri dari duodenum, jejenum dan illeum. Kelenjar branner menghasilkan getah duodenum dan disekresikan ke dalam duodenum melalui vili-vili dan getah ini bersifat basa. Getah pankreas yang dihasilkan disekresikan ke dalam duodenum melalui ductus pancreaticus. Jejenum merupakan kelanjutan dari duodenum dan illeum berkelok-kelok di sebelah caudal ventriculus dan berfungsi sebagai tempat absorbsi makanan 
  5. Usus besar. Usus besar merupakan organ pencernaan dimana terjadi proses pencernaan yang  dilakukan oleh enzim yang terbawa bersama makan oleh tractus digestivus. Bagian depan dari aktivitas organisme yang terutama ada dalam coecum. Di usus besar terjadi sintesa vitamin B yang langsung dapat di absorbsi 
  6. Coecum. Sisa makanan yang belum tercerna akan masuk ke dalam coecum untuk disimpan sementara waktu dan terjadi pencernaan mikrobial, sebab di dalam coecum terdapat mikroorganisme yang memecah selulosa menjadi asam lemak volatil 
  7. Usus Besar. Setelah dari coecum, makanan masuk ke dalam usus besar dan terjadi pencernaan yang berupa serat kasar dan akan langsung diabsorbsi. Di dalam usus besar juga terjadi sintesa beberapa vitamin B yang dapat langsung diabsorbsi dan dimanfaatkan oleh ternak tersebut  Sisa dari hasil absorbsi akan masuk ke dalam rektum dan membentuk feses.
  8. Anus. Feses yang keluar lewat anus mengandung air. Feses merupakan sisa makanan yang tidak tercerna. Cairan dari tractus digestivus, sel-sel epitel usus, mikroorganisme, garam organik, stearol dan hasil dekomposisi dari bakteri keluar mel;alui anus .


Sistem Reproduksi

Sistem reproduksi kelinci jantan

Organ reproduksi utama kelinci jantan adalah sepasang testis, epididymis, penis dan kelenjar genetis 
  • Testis. Testis berbentuk bulat, sepasang kecil, sebagai penghasil sperma, terdapat di dalam scrotum setelah mengalami discencus testiculorum 
  • Epididymis. Epididymis terlatak di sebelah medial testis memanjang dari cranial sepanjang testis dan terdiri dari caput epididymis, ductus epididymis, dan ductus ejaculatoris 
  • Penis. Penis merupakan organ genitalia esterna yang tersusun atas corpus covernisum penis, corpus covernosum uretrae dan praeputium 
  • Kelenjar genitalis masculina. Kelenjar genitalis mosculine ini terdiri atas corpus grandula prostatae, uterus masculinus, glandula verticulus, glandula bulbo uretralis (cowperi) dan glandula inguinalis

Sistem Reproduksi Kelinci Betina 

Organ reproduksi kelinci betina adalah sepasang ovarium, infundibulum, oviduct (tuba fallopi), uterus, vagina, vulva dan clitoris (Anonim, 1991).
  1. Ovarium. Organ ini terdiri dari sepasang terutama di sebelah caudal (dandren). Dalam ovarium terdapat folikel-folikel grafis berupa gelemnbung yang terdapat di permukaan ovarium 
  2. Infundibulum Tubae. Infundibulum Tubae merupakan pelebaran tubor yang berbentuk corong, terletak dekat ovarium, pada tepi infundibulum terdapat rumbai-rumbai yang  disebut firbae 
  3. Tubae. Tubae merupakan saluran tipis yang berkelok-kelok, kelanjutan  infundibulum tubordim sebelah caudal. Pada bagian dorsal menjadi konsepsia, penggantung tubor disebut mesosalpinx
  4. Vagina. Vagina merupakan muara keluarnya sebagai ibntraitus vaginae 
  5. Vulva. Vulva merupakan celah antara labium
  6. Clitoris. Clitoris merupakan alat homolog dengan penis terdiri dari corpus covernisum clitoris, corpus sporgnem, clitoris praeptium dan glandula clitoria

Analisis Ekonomi budidaya kelinci

Setiap peternak kelinci dapat dikatakan sebagai seorang pengusaha bila memelihara kelinci sampai ratusan ekor. Guna mencapai keberhasilan dalam usaha tersebut tentu membutuhkan modal berupa uang, waktu, tenaga dan tempat yang memadai untuk usaha ternak kelinci tersebut. Selain itu sebagai peternak yang baik harus berusaha untuk dapat memproduksi anak-anak kelinci sebanyak-banyaknya dari setiap induk selama satu tahun dalam masa produksinya 

Manajemen yang baik dan terencana akan sangat menunjang keberhasilan usaha misalnya memilih bibit yang baik, merencanakan modal, tata laksana pemeliharaan yang baik, merencanakan modal, tata laksana pemeliharaan yang baik dan perhatian khusus terhadap pakan, kandang, sanitasi serta pencataan produksi 

Ahli ekonomi menggambarkan kegiatan tersebut dengan cara cost-input yang meliputi tanah dan bangunan, sangkar dan peralatan, pakan dan pengurangan lainnya serta return-output yang meliputi ternak bibit, daging, bulu, dan hasil sampingan seperti kaki, ekor dan kotoran

Sebagai ternak penghasil daging, kelinci mempunyai beberapa kelebihan dibandingkan ternak-ternak yang lain, yaitu 
  • Kelinci dapat mengubah dengan cepat bahan-bahan makanan yang murah seperti daun-daun dan sisa-sisa yang tidak berguna bagi manusia menjadi daging yang mempunyai nilai gizi yang tinggi 
  • Reproduksinya sangat cepat, dalam waktu 1 tahun dapat menghasilkan 40 sampai 70 ekor anak kelinci 
  • Dalam beternak kelinci tidak membutuhkan modal dan biaya yang besar 
  • Kelinci mempunyai kecepatan pertumbuhan yang sama dengan ayam Broiler 


Cara Budidaya Ternak Sapi Perah

Sapi adalah hewan ternak terpenting sebagai sumber daging, susu, tenaga kerja dan kebutuhan lainnya. Sapi menghasilkan sekitar 50% (45-55%) kebutuhan daging di dunia, 95% kebutuhan susu dan 85% kebutuhan kulit. Sapi berasal dari famili Bovidae. seperti halnya bison, banteng, kerbau (Bubalus), kerbau Afrika (Syncherus), dan anoa.

Domestikasi sapi perah dilakukan sekitar 400 tahun SM. Sapi diperkirakan berasal dari Asia Tengah, kemudian menyebar ke Eropa, Afrika dan seluruh wilayah Asia. Menjelang akhir abad ke-19, sapi Ongole dari India dimasukkan ke pulau Sumba dan sejak saat itu pulau tersebut dijadikan tempat pembiakan sapi Ongole murni. Pada tahun 1957 telah dilakukan perbaikan mutu genetik sapi Madura dengan jalan menyilangkannya dengan sapi Red Deen. Persilangan lain yaitu antara sapi lokal (peranakan Ongole) dengan sapi perah Frisian Holstein di Grati guna diperoleh sapi perah jenis baru yang sesuai dengan iklim dan kondisi di Indonesia.

SENTRA PETERNAKAN

Sentra peternakan sapi di dunia ada di negara Eropa (Skotlandia, Inggris, Denmark, Perancis, Switzerland, Belanda), Italia, Amerika, Australia, Afrika dan Asia (India dan Pakistan). Sapi Friesian Holstein misalnya, terkenal dengan produksi susunya yang tinggi (+ 6350 kg/th), dengan persentase lemak susu sekitar 3-7%. Namun demikian sapi-sapi perah tersebut ada yang mampu berproduksi hingga mencapai 25.000 kg susu/tahun, apabila digunakan bibit unggul, diberi pakan yang sesuai dengan kebutuhan ternak, lingkungan yang mendukung dan menerapkan budidaya dengan manajemen yang baik. Saat ini produksi susu di dunia mencapai 385 juta m2/ton/th, khususnya pada zone yang beriklim sedang. Produksi susu sapi di PSPB masih kurang dari 10 liter/hari dan jauh dari standar normalnya 12 liter/hari (rataratanya hanya 5-8 liter/hari).

Gambar 1. foto ternak sapi perah

JENIS

Secara garis besar, bangsa-bangsa sapi (Bos) yang terdapat di dunia ada dua, yaitu
(1) kelompok yang berasal dari sapi Zebu (Bos indicus) atau jenis sapi yang berpunuk, yang berasal dan tersebar di daerah tropis
(2) kelompok dari Bos primigenius, yang tersebar di daerah sub tropis atau lebih dikenal dengan Bos Taurus.

Jenis sapi perah yang unggul dan paling banyak dipelihara adalah sapi Shorhorn (dari Inggris), Friesian Holstein (dari Belanda), Yersey (dari selat Channel antara Inggris dan Perancis), Brown Swiss (dari Switzerland), Red Danish (dari Denmark) dan Droughtmaster (dari Australia). Hasil survei di PSPB Cibinong menunjukkan bahwa jenis sapi perah yang paling cocok dan menguntungkan untuk dibudidayakan di Indonesia adalah Frisien Holstein.

MANFAAT

Peternakan sapi menghasilkan daging sebagai sumber protein, susu, kulit yang dimanfaatkan untuk industri dan pupuk kandang sebagai salah satu sumber organik lahan pertanian.

PERSYARATAN LOKASI

Lokasi yang ideal untuk membangun kandang adalah daerah yang letaknya cukup jauh dari pemukiman penduduk tetapi mudah dicapai oleh kendaraan. Kandang harus terpisah dari rumah tinggal dengan jarak minimal 10 meter dan sinar matahari harus dapat menembus pelataran kandang serta dekat dengan lahan pertanian. Pembuatannya dapat dilakukan secara berkelompok di tengah sawah atau ladang.

PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA

Penyiapan Sarana dan Peralatan

Kandang dapat dibuat dalam bentuk ganda atau tunggal, tergantung dari jumlah sapi yang dimiliki. Pada kandang tipe tunggal, penempatan sapi dilakukan pada satu baris atau satu jajaran, sementara kandang yang bertipe ganda penempatannya dilakukan pada dua jajaran yang saling berhadapan atau saling bertolak belakang. Diantara kedua jajaran tersebut biasanya dibuat jalur untuk jalan. Pembuatan kandang untuk tujuan penggemukan (kereman) biasanya berbentuk tunggal apabila kapasitas ternak yang dipelihara hanya sedikit. Namun, apabila kegiatan penggemukan sapi ditujukan untuk komersial, ukuran kandang harus lebih luas dan lebih besar sehingga dapat menampung jumlah sapi yang lebih banyak. Lantai kandang harus diusahakan tetap bersih guna mencegah timbulnya berbagai penyakit. Lantai terbuat dari tanah padat atau semen, dan mudah dibersihkan dari kotoran sapi. Lantai tanah dialasi dengan jerami kering sebagai alas kandang yang hangat. Seluruh bagian kandang dan peralatan yang pernah dipakai harus disuci hamakan terlebih dahulu dengan desinfektan, seperti creolin, lysol, dan bahan-bahan lainnya. Ukuran kandang yang dibuat untuk seekor sapi jantan dewasa adalah 1,5x2 m atau 2,5x2 m, sedangkan untuk sapi betina dewasa adalah 1,8x2 m dan untuk anak sapi cukup 1,5x1 m per ekor, dengan tinggi atas + 2-2,5 m dari tanah. Temperatur di sekitar kandang 25-40 derajat C (rata-rata 33 derajat C) dan kelembaban 75%. Lokasi pemeliharaan dapat dilakukan pada dataran rendah (100-500 m) ingga dataran tinggi (> 500 m).

Pembibitan
Syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh bibit sapi perah betina dewasa adalah:
a. produksi susu tinggi,
b. umur 3,5-4,5 tahun dan sudah pernah beranak,
c. berasal dari induk dan pejantan yang mempunyai keturunan produksi susu tinggi,
d. bentuk tubuhnya seperti baji,
e. matanya bercahaya, punggung lurus, bentuk kepala baik, jarak kaki depan atau kaki belakang cukup lebar serta kaki kuat,
f. ambing cukup besar, pertautan pada tubuh cukup baik, apabila diraba lunak, kulit halus, vena susu banyak, panjang dan berkelok-kelok, puting susu tidak lebih dari 4,terletak dalam segi empat yang simetris dan tidak terlalu pendek,
g. tubuh sehat dan bukan sebagai pembawa penyakit menular, dan
h. tiap tahun beranak.

Sementara calon induk yang baik antara lain:
a. berasal dari induk yang menghasilkan air susu tinggi,
b. kepala dan leher sedikit panjang, pundak tajam, badan cukup panjang, punggung dan pinggul rata, dada dalam dan pinggul lebar,
c. jarak antara kedua kaki belakang dan kedua kaki depan cukup lebar,
d. pertumbuhan ambing dan puting baik,
e. jumlah puting tidak lebih dari 4 dan letaknya simetris, serta
f. sehat dan tidak cacat.

Pejantan yang baik harus memenuhi kriteria sebagai berikut:
a. umur sekitar 4-5 tahun,
b. memiliki kesuburan tinggi,
c. daya menurunkan sifat produksi yang tinggi kepada anak-anaknya,
d. berasal dari induk dan pejantan yang baik,
e. besar badannya sesuai dengan umur, kuat, dan mempunyai sifat-sifat pejantan yang baik,
f. kepala lebar, leher besar, pinggang lebar, punggung kuat,
g. muka sedikit panjang, pundak sedikit tajam dan lebar,
h. paha rata dan cukup terpisah,
i. dada lebar dan jarak antara tulang rusuknya cukup lebar,
j. badan panjang, dada dalam, lingkar dada dan lingkar perut besar, serta
k. sehat, bebas dari penyakit menular dan tidak menurunkan cacat pada keturunannya.

Prosedur:
1. Pemilihan Bibit dan Calon Induk
Untuk mengejar produktivitas ternak yang tinggi, diperlukan perbaikan lingkungan hidup dan peningkatan mutu genetik ternak yang bersangkutan. Bibit yang baru datang harus dikarantina untuk penularan penyakit. Kemudian bibit diberi minum air yang dicampur garam dapur, ditempatkan dalam kandang yang bersih dan ditimbang serta dicatat penampilannya.
2. Perawatan Bibit dan Calon Induk
Seluruh sapi perah dara yang belum menunjukkan tanda-tanda birahi atau belum bunting setelah suatu periode tertentu, harus disisihkan. Jika sapi yang disisihkan
tersebut telah menghasilkan susu, sapi diseleksi kembali berdasarkan produksi susunya, kecenderungan terkena radang ambing dan temperamennya.
3. Sistim Pemuliabiakan
Seringkali sapi perah dara dikawinkan dengan pejantan pedaging untuk mengurangi risiko kesulitan lahir dan baru setelah menghasilkan anak satu dikawinkan dengan pejantan sapi perah pilihan. Bibit harus diberi kesempatan untuk bergerak aktif paling tidak 2 jam setiap hari.

Pemeliharaan
1. Sanitasi dan Tindakan Preventif
Pada pemeliharaan secara intensif sapi-sapi dikandangkan sehingga peternak mudah mengawasinya, sementara pemeliharaan secara ekstensif pengawasannya sulit dilakukan karena sapi-sapi yang dipelihara dibiarkan hidup bebas. Sapi perah yang dipelihara dalam naungan (ruangan) memiliki konsepsi produksi yang lebih tinggi (19%) dan produksi susunya 11% lebih banyak daripada tanpa naungan. Bibit yang sakit segera diobati karena dan bibit yang menjelang beranak dikering kandangkan selama 1-2 bulan.

2. Perawatan Ternak
Ternak dimandikan 2 hari sekali. Seluruh sapi induk dimandikan setiap hari setelah kandang dibersihkan dan sebelum pemerahan susu. Kandang harus dibersihkan setiap hari, kotoran kandang ditempatkan pada penampungan khusus sehingga dapat diolah menjadi pupuk. Setelah kandang dibersihkan, sebaiknya lantainya diberi tilam sebagai
alas lantai yang umumnya terbuat dari jerami atau sisa-sisa pakan hijauan (seminggu sekali tilam tersebut harus dibongkar). Penimbangan dilakukan sejak sapi pedet hingga usia dewasa. Sapi pedet ditimbang seminggu sekali sementara sapi dewasa ditimbang setiap bulan atau 3 bulan sekali. Sapi yang baru disapih ditimbang sebulan sekali. Sapi dewasa dapat ditimbang dengan melakukan taksiran pengukuran berdasarkan lingkar dan lebar dada, panjang badan dan tinggi pundak.

3. Pemberian Pakan
Pemberian pakan pada sapi dapat dilakukan dengan 3 cara, yaitu:
a. sistem penggembalaan (pasture fattening)
b. kereman (dry lot fattening)
c. kombinasi cara pertama dan kedua.

Pakan yang diberikan berupa hijauan dan konsentrat. Hijauan yang berupa jerami padi, pucuk daun tebu, lamtoro, alfalfa, rumput gajah, rumput benggala atau rumput raja. Hijauan diberikan siang hari setelah pemerahan sebanyak 30-50 kg/ekor/hari. Pakan berupa rumput bagi sapi dewasa umumnya diberikan sebanyak 10% dari bobot badan (BB) dan pakan tambahan sebanyak 1-2% dari BB. Sapi yang sedang menyusui (laktasi) memerlukan makanan tambahan sebesar 25% hijauan dan konsentrat dalam ransumnya. Hijauan yang berupa rumput segar sebaiknya ditambah dengan jenis kacang-kacangan (legum). Sumber karbohidrat berupa dedak halus atau bekatul, ampas tahu, gaplek, dan bungkil kelapa serta mineral (sebagai penguat) yang berupa garam dapur, kapur, dll. Pemberian pakan konsentrat sebaiknya diberikan pada pagi hari dan sore hari sebelum sapi diperah sebanyak 1-2 kg/ekor/hari. Selain makanan, sapi harus diberi air minum sebanyak 10% dari berat badan per hari. Pemeliharaan utama adalah pemberian pakan yang cukup dan berkualitas, serta menjaga kebersihan kandang dan kesehatan ternak yang dipelihara. Pemberian pakan secara kereman dikombinasikan dengan penggembalaan Di awal musim kemarau, setiap hari sapi digembalakan. Di musim hujan sapi dikandangkan dan pakan diberikan menurut jatah. Penggembalaan bertujuan pula untuk memberi kesempatan bergerak pada sapi guna memperkuat kakinya.

4. Pemeliharaan Kandang
Kotoran ditimbun di tempat lain agar mengalami proses fermentasi (+1-2minggu) dan berubah menjadi pupuk kandang yang sudah matang dan baik. Kandang sapi tidak boleh tertutup rapat (agak terbuka) agar sirkulasi udara didalamnya berjalan lancar. Air minum yang bersih harus tersedia setiap saat. Tempat pakan dan minum sebaiknya dibuat di luar kandang tetapi masih di bawah atap. Tempat pakan dibuat agak lebih tinggi agar pakan yang diberikan tidak diinjak-injak atau tercampur dengan kotoran. Sementara tempat air minum sebaiknya dibuat permanen berupa bak semen dan sedikit lebih tinggi daripada permukaan lantai. Sediakan pula peralatan untuk
memandikan sapi.

Gambar 1. foto budidaya sapi perah

HAMA DAN PENYAKIT

Penyakit

1. Penyakit antraks
Penyebab: Bacillus anthracis yang menular melalui kontak langsung, makanan/minuman atau pernafasan.
Gejala:
1. demam tinggi, badan lemah dan gemetar;
2. gangguan pernafasan;
3. pembengkakan pada kelenjar dada, leher, alat kelamin dan badan penuh bisul;
4. kadang-kadang darah berwarna merah hitam yang keluar melalui hidung, telinga, mulut, anus dan vagina;
5. kotoran ternak cair dan sering bercampur darah;
6. limpa bengkak dan berwarna kehitaman.
Pengendalian: vaksinasi, pengobatan antibiotika, mengisolasi sapi yang terinfeksi serta mengubur/membakar sapi yang mati.

2. Penyakit mulut dan kuku (PMK) atau penyakit Apthae epizootica (AE) 
Penyebab: virus ini menular melalui kontak langsung melalui air kencing, air susu, air liur dan benda lain yang tercemar kuman AE.
Gejala:
1. rongga mulut, lidah, dan telapak kaki atau tracak melepuh serta terdapat tonjolan bulat berisi cairan yang bening;
2. demam atau panas, suhu badan menurun drastis;
3. nafsu makan menurun bahkan tidak mau makan sama sekali;
4. air liur keluar berlebihan.
Pengendalian: vaksinasi dan sapi yang sakit diasingkan dan diobati secara terpisah.

3. Penyakit ngorok/mendekur atau penyakit Septichaema epizootica (SE)
Penyebab: bakteri Pasturella multocida. Penularannya melalui makanan dan minuman yang tercemar bakteri.
Gejala:
1. kulit kepala dan selaput lendir lidah membengkak, berwarna merah dan kebiruan;
2. leher, anus, dan vulva membengkak;
3. paru-paru meradang, selaput lendir usus dan perut masam dan berwarna merah tua;
4. demam dan sulit bernafas sehingga mirip orang yang ngorok. Dalam keadaan sangat parah, sapi akan mati dalam waktu antara 12-36 jam.
Pengendalian: vaksinasi anti SE dan diberi antibiotika atau sulfa.

4. Penyakit radang kuku atau kuku busuk (foot rot)
Penyakit ini menyerang sapi yang dipelihara dalam kandang yang basah dan kotor.
Gejala:
1. mula-mula sekitar celah kuku bengkak dan mengeluarkan cairan putih keruh;
2. kulit kuku mengelupas;
3. tumbuh benjolan yang menimbulkan rasa sakit;
4. sapi pincang dan akhirnya bisa lumpuh.

Pencegahan Serangan

Upaya pencegahan dan pengobatannya dilakukan dengan memotong kuku dan merendam bagian yang sakit dalam larutan refanol selama 30 menit yang diulangi seminggu sekali serta menempatkan sapi dalam kandang yang bersih dan kering.

PANEN

Hasil Utama
Hasil utama dari budidaya sapi perah adalah susu yang dihasilkan oleh induk betina.

Hasil Tambahan
Selain susu sapi perah juga memberikan hasil lain yaitu daging dan kulit yang berasal dari sapi yang sudah tidak produktif serta pupuk kandang yang dihasilkan dari kotoran ternak.

ANALISIS EKONOMI BUDIDAYA

Analisis Usaha Budidaya

Usaha ternak sapi perah di Indonesia masih bersifat subsisten oleh peternak kecil dan belum mencapai usaha yang berorientasi ekonomi. Rendahnya tingkat produktivitas ternak tersebut lebih disebabkan oleh kurangnya modal, serta pengetahuan/ketrampilan petani yang mencakup aspek reproduksi, pemberian pakan, pengelolaan hasil pascapanen, penerapan sistem recording, pemerahan, sanitasi dan pencegahan penyakit. Selain itu pengetahuan petani mengenai aspek tata niaga harus ditingkatkan sehingga keuntungan yang diperoleh sebanding dengan pemeliharaannya. Produksi susu sapi di dunia kini sudah melebihi 385 juta m2/ton/th dengan tingkat penjualan sapi dan produknya yang lebih besar daripada pedet, pejantan, dan sapi afkiran. 

Di Amerika Serikat, tingkat penjualan dan pembelian sapi dan produknya secara tunai mencapai 13% dari seluruh peternakan yang ada di dunia. Sementara tingkat penjualan anak sapi (pedet), pejantan sapi perah, dan sapi afkir hanya berkisar 3%. Produksi susu sejumlah itu masih perlu ditingkatkan seiring dengan peningkatan jumlah penduduk di dunia ini. Untuk mencapai tingkat produksi yang tinggi maka pengelolaan dan pemberian pakan harus benar-benar sesuai dengan kebutuhan ternak, dimana minimum pakan yang dapat dimanfaatkan oleh ternak (terserap) diusahakan sekitar 3,5-4% dari bahan kering

Gambaran Peluang Agribisnis

Usaha peternakan sapi perah keluarga memberikan keuntungan jika jumlah sapi yang dipelihara minimal sebanyak 6 ekor, walaupun tingkat efisiensinya dapat dicapai dengan minimal pengusahaannya sebanyak 2 ekor dengan rata-rata produksi susu sebanyak 15 lt/hari. Upaya untuk meningkatkan pendapatan petani melalui pembudidayaan sapi perah tersebut dapat juga dilakukan dengan melakukan diversifikasi usaha. Selain itu melakukan upaya kooperatif dan integratif (horizontal dan vertikal) dengan petani lainnya dan instansiinstansi lain yang berkompeten, serta tetap memantapkan pola PIR diatas

Panen Anak Untuk Breeding Ternak

Ukuran kinerja induk meliputi angka panen anak dan berat sapih. Panen anak adalah jumlah anak lepas sapih yang dapat diperoleh dari suatu populasi induk dalam kurun waktu tertentu. 

Panen anak sering disebut calf crop, lamb crop dan sebagainya sesuai dengan jenis ternak yang dimaksud.Panen anak akan sangat mempengaruhi pertambahan alami (natural incrase). Pertambahan alami adalah pertambahan jumlah ternak dalam suatu kurun waktu tertentu yang disebabkan oleh peristiwa alam, yaitu kelahiran dan kematian. Adanya pembelian dan pemotongan tidak masuk dalam perhitungan pertambahan alami.

Besar panen anak dalam breeding dipengaruhi oleh persentase kelahiran, litter size, dan mortalitas baik neonatal maupun prasapih. Prosentase beranak adalah jumlah induk yang beranak atau peristiwa kelahiran yang terjadi dari suatu populasi induk dalam kurun waktu tertentu. Persentase kelahiran dipengaruhi oleh interval kelahiran.

breeding ternak


Interval Kelahiran

Interval kelahiran / jarak beranak adalah jarak antara suatu kelahiran dengan kelahiran berikutnya. Interval kelahiran secara spesifik dinamakan sesuai dengan jenis ternaknya, misalnya calving interval pada sapi, lambing interval pada domba, kidding interval pada kambing, farrowing interval pada babi, foaling interval pada kuda dan kindling interval pada kelinci. Interval kelahiran yang ideal dari sapi adalah 1 tahun, babi 6 bulan, kambing 8 bulan, domba 8 bulan, dan kelinci 3 bulan. Interval kelahiran dipengaruhi oleh lama kosong dan lama bunting.

Lama Kosong

Lama kosong sering disebut sebagai service periode (periode servis), yaitu suatu periode di mana induk harus mengalami perbaikan kondisi alat/organ reproduksinya sebelum dipergunakan untuk bunting lagi, dapat juga dipahami sebagai suatu periode di mana seekor induk bisa dikawini.

Lama kosong ini ditentukan oleh post partum mating dan service perconception.
IK   =  LK + LB
LK  =  PPM + SE(S/C – 1)
Dari persamaan di atas terlihat jika S/C = 1 maka lama kosong sama dengan PPM.
Tetapi jika S/C = 2 maka lama kosong sama dengan PPM ditambah lama siklus estrus.

Post Partum Mating (PPM)

PPM adalah perkawinan kembali setelah kelahiran. Pada ternak yang spontaneus, seperti sapi, kerbau, kuda, babi, kambing dan domba, PPM sangat ditentukan oleh post partum estrous (PPE), yaitu timbulnya gejala estrus setelah melahirkan, karena mereka tidak akan dapat dikawini jika tidak estrus. Estrus dalam hal ini adalah estrus yang disertai ovulasi, karena dalam beberapa kasus dapat terjadi estrus yang tidak disertai ovulasi dan ovulasi yang tidak menunjukkan gejala estrus. 

Pada ternak non spontaneus, misalnya kelinci, perkawinan kembali dapat ditentukan sesuai dengan keinginan kita.

Post Partum Estrous (PPE)

PPE adalah estrus kembali setelah kelahiran. PPE dipengaruhi oleh laktasi dan involusi. Ternak yang baru saja melahirkan tidak akan begitu saja mempunyai siklus estrus yang normal. Segera setelah kelahiran, seekor induk akan mengalami laktasi dan involusi. Laktasi adalah keadaan di mana seekor induk mengeluarkan susu. Pada ternak potong, susu yang dihasilkan akan disusu/diminum oleh anaknya sedang pada ternak perah susu yang dihasilkan dapat diperah untuk dijual atau sebagian dapat juga diberikan pada pedetnya. Menurut Hunter (1995), selama stadium awal proses laktasi sekresi hormon trofik kelenjar hipofisis ditujukan lebih banyak untuk mendukung sintesis susu ketimbang untuk memulai kembali aktifitas ovarium yang siklis. Situasi ini mengakibatkan terjadinya periode anestrus laktasi bila hewan betina itu tidak bunting dan pada umumnya tidak mau dikawini. 

Involusi adalah keadaan di mana seekor induk mengalami penyusutan kembali ukuran alat reproduksinya (terutama uterus, servik dan vagina) setelah mengalami pembesaran karena proses kebuntingan dan kelahiran. Waktu yang diperlukan untuk involusi uterus sapi adalah 35 - 40 hari, domba 20 - 25 hari, babi 21 - 28 hari, dan kuda 8 - 15 hari.

pembatasan lain pada pemulihan fertilitas adalah menyangkut kondisi saluran reproduksi pada hewan pasca partus, khususnya uterus dan juga servik pada spesies seperti babi. Setelah jaringan uterus mengalami peregangan dan distorsi selama bunting, dan perkembangan kelenjar yang meningkat, yang diperlukan untuk mendukung konseptus, uterus harus mengalami kontraksi dan kehilangan berat yang disertai dengan pertumbuhan kembali lapisan epitelnya secara ekstensif.

Sifat elastis otot memungkinkan penyusutan yang besar dalam ukuran uterus dalam tempo beberapa jam setelah partus, dan selama periode ini kontraksi miometrium masih tetap kuat dan berperan mengeluarkan sisa plasenta, darah dan zalir dari lumen. (Konsentrasi estrogen fetoplasenta makin meningkat tepat menjelang lahir, estrogen ini berperan meningkatkan tonus dinding uterus.) Oksitosin yang timbul akibat refleks penyusuan yang pengaruhnya berulang setiap jam, misalnya oleh anak babi selama beberapa hari pertama setelah kelahiran. Jadi proses penyusuan dapat mempercepat proses involusi dengan menyebabkan miometrium berkontraksi.

Salah satu alasan mengapa laju involusi itu terbatas adalah karena adanya periode tidak aktif ovarium secara relatif selama anestrus laktasi, dan dengan demikian tidak-adanya siklus sekresi steroid ovarium yang berpengaruh pada jaringan uterus. Mengapa marmut dapat menunjukkan berahi yang subur dalam beberapa jam setelah partus ?.

Service perconception (S/C)

S/C adalah jumlah perkawinan yang dibutuhkan untuk terjadinya konsepsi/pembuahan. Terdapat dua pengertian jumlah perkawinan dalam penghitungan S/C. Pengertian pertama mengacu pada kejadian estrus di mana perkawinan yang dilakukan pada saat estrus yang sama ditetapkan sebagai satu kali servis, meskipun dalam saat tersebut dilakukan lebih dari satu perkawinan. Pengertian ini banyak dipakai oleh perguruan tinggi di mana S/C digunakan sebagai faktor penentu interval kelahiran. Pengertian kedua mengacu pada kejadian perkawinan itu sendiri di mana satu kali perkawinan ditetapkan sebagai satu kali servis sehingga dalam satu masa estrus dapat saja ditetapkan lebih dari satu kali servis jika dilakukan perkawinan ulangan. Pengertian ini banyak dipakai oleh dinas di mana S/C digunakan untuk menentukan jumlah straw (semen beku) yang harus dipersiapkan dalam program artificial insemination (inseminasi buatan/IB).

S/C terutama ditentukan oleh kondisi induk, ketepatan saat perkawinan dan kualitas pejantan. Fertilisasi dan perkembangan embrio memerlukan lingkungan uterus yang tidak saja memungkinkan pengangkutan dan daya hidup spermatozoa, tetapi juga dapat memberikan dukungan metabolisme bagi perkembangan embrio dalam waktu dua atau tiga harisetelah pembuahan. Embrio tumbuh menjadi stadium morula dan blastokista menjadi konseptus yang sangat besar sebelum mulai terjadi perlekatan, selama pertumbuhan itu, embrio hampir sepenuhnya tergantung pada sekresi kelenjar endometrium. Pada kenyataannya, pola sekresi hormon ovarium sebelum dan sesudah estrus ovulasi yang pertama menyebabkan terjadinya perkembangan endometrium yang sekretoris, tetapi uterus dapat menjadi lebih baik lagi dalam memberi makan embrio pra implantasi pada siklus kedua dari perubahan ovarium setelah jaringan itu terpapar pada pengaruh fase luteal penuh.

Pada keadaan di alam, pejantan akan mengetahui kapan saat terbaik untuk mengawini betina sehingga pembuahan dapat terjadi. Pada keadaan di kandang di mana betina dan pejantan dipisah, maka saat perkawinan yang tepat harus betul-betul diperhatikan oleh peternak. Saat perkawinan yang tepat ditentukan oleh kapan saat terjadi ovulasi di saat timbul gejala estrus dan daya tahan sperma di dalam saluran reproduksi betina.

Lama Bunting

Kebuntingan adalah masa di mana seekor induk memiliki nak di dalam uterusnya. Masa ini dimulai dari fertilisasi sampai kelahiran. 

Litter Size

Litter size atau jumlah anak sepelahiran adalah jumlah anak yang dilahirkan dalam satu kali masa kehamilan/kelahiran. Litter size dipengaruhi oleh ovulation rate, jumlah ovum yang dibuahi, dan kematian anak dalam kandungan.

Mortalitas Neonatal

Mortalitas neonatal adalah kematian anak pada saat menjelang dan sesaat sesudah melahirkan.

Mortalitas Prasapih

Mortalitas prasapih adalah kematian anak setelah dilahirkan sampai dengan disapih.

Pengaruh Berat Lahir dan Pertumbuhan prasapih Ternak

Berat sapih adalah berat ternak anakan pada saat disapih. Mengingat peternak kita masih jarang yang melakukan penyapihan secara paksa, maka umur sapih ditetapkan berdasarkan ketetapan.

Berat sapih dipengaruhi oleh 2 faktor yaitu 
  • berat lahir
  • pertumbuhan prasapih. 

Pertumbuhan menyangkut dua peristiwa yang terjadi pada sel-sel di dalam tubuh ternak, yaitu hiperplasia dan hipertrapi. Hiperplasia adalah perbanyakan jumlah sel. Hipertropi adalah pembesaran ukuran sel. Pertumbuhan seekor ternak sudah dimulai sejak terjadi konsepsi hingga tercapai dewasa tubuh. Untuk memudahkan pembahasan, pertumbuhan ternak dibagi dalam tiga tahap, yaitu pertumbuhan sebelum lahir, prasapih, dan pascasapih. Pertumbuhan pada ternak tercermin pada peningkatan berat badannya. Secara umum, peningkatan berat badan ternak mengikuti kurva sigmoideal. 

gambar 1. foto sapi masa sapih

Berat lahir adalah berat anak pada saat dilahirkan. Berat lahir sangat dipengaruhi oleh pertumbuhan anak sebelum lahir (di dalam kandungan induk). Selama di dalam kandungan, anak mengalami pertumbuhan yang lambat pada 2/3 awal kebuntingan dan pertumbuhan yang cepat selama 1/3 akhir kebuntingan. Pertumbuhan itu dipengaruhi oleh genetik induk dan pejantan, jenis kelamin anak, litter size, jumlah dan kualitas pakan induk, serta umur dan berat induk.

Pertumbuhan prasapih dipengaruhi oleh genetik induk dan pejantan, jenis kelamin anak, litter size, umur dan berat induk, jumlah dan kualitas susu induk, serta jumlah dan kualitas pakan. Jumlah dan kualitas susu induk dipengaruhi oleh jumlah dan kualitas pakannya.

Genetik induk dan pejantan akan diturunkan kepada anaknya. Anak akan menerima setengah darah (gen) induk dan setengah darah bapak (pejantan). Namun demikian, anak yang dihasilkan dari perkawinan induk yang baik kinerjanya dengan pejantan yang baik kinerjanya akan mempunyai kinerja yang baik seperti tetuanya meskipun pemeliharaannya sama. Hal itu disebabkan karena adanya sifat dominan dan resesif gen sehingga fenotif belum tentu sama dengan genotif. Peternakan modern memerlukan induk dan pejantan (parent stock) yang kecil tetapi mampu menghasilkan anak (final stock) yang besar untuk menghemat biaya pembibitan. Metode itu sudah diterapkan dalam industri unggas.

Litter size berkaitan erat dengan kompetisi anak dalam mendapatkan nutrisi dari induknya, baik sebelum lahir maupun prasapih. Semakin besar litter size, semakin sedikit pula jatah nutrisi yang diterima per individu anak. Nutrisi dari induk terbatas akan menjadi rebutan anak-anak yang dikandung/disusuinya. Anak yang dominan akan memperoleh bagian yang besar sehingga dapat tumbuh cepat sedang anak yang kalah akan memperoleh bagian yang sedikit sehingga tumbuhnya lambat atau bahkan mengalami kematian.

Nutrisi induk sangat menentukan pertumbuhan anak di dalam kandungan maupun prasapih terutama pada saat anak belum mampu makan sendiri. Status nutrisi induk sangat dipengaruhi oleh jumlah dan kualitas pakan yang dikonsumsinya, baik selama kebuntingan maupun laktasi.

Manajemen Kandang Ternak Babi

Tujuan dan pembuatan kandang adalah memberikan media lingkungan yang kondusif bagi ternak, nyaman, dan sehat sehingga proses produksi dapat berlangsung lancar. Syarat kandang yang baik adalah cukup mendapatkan penyinaran matahari, ventilasi yang baik, sistem penyaluran kotoran  yang baik dan diusahakan tidak terlalu dekat dengan kandang, kandang selalu dalam keadaan kering dan bersih, kandang dibuat dari bahan yang murah dan daya tahan cukup lama dan efisien.

Ada beberapa macam tipe atau jenis kandang babi yaitu 
  • type one unit system, yakni kandang untuk induk dan anak-anak babi, sesudah menyapih induk pindah ke kandang lain, sedangkan anak tetap berada di kandang sampai dijual
  • two unit system, yakni induk dan anak menempati satu kandang, sesudah disapih, anak babi pindah ke kandang untuk grower dan finisher
  • three unit system, yakni induk dan anak menempati satu  satu kandang sesudah disapih, anak babi pindah ke kandang perawatan dan kemudian ke kandang grower-finisher
  • four unit system, yakni hampir sama dengan three unit system dengan kandang finisher dipisah dari grower. 

Luas kandang babi tergantung pada tujuan pemeliharan, makin banyak induk yang dipelihara, maka luas kandang makin besar. Hal yang perlu dipertimbangkan dalam pembuatan kandang antara lain sarana jalan, ketinggian lokasi, ketersediaan air, kemungkinan pengadaan alistrik, sarana komunikasi, sarana transportasi.

gambar 1. foto manajemen kandang babi

Lantai kandang ternak harus selalu terjaga drainasenya, sehingga untuk  lantai kandang non litter dibuat miring kebelakang untuk memudahkan pembuangan kotoran dan menjaga kondisi lantai tetap kering. Kemiringan lantai berkisar antara 2% sampai 5%, artinya setiap  panjang  lantai  1  meter  maka ketinggian  lantai bagian belakang menurun sebesar 2 sampai 5 cm 

Peralatan kandang dan fungsinya

Peralatan kandang yang harus ada di kandang antara lain selang yang berfungsi untuk mengalirkan air dari tendon air untuk membersihkan kandang sekaligus untuk memandikan babi agar lebih mudah, sapu lidi berfungsi untuk menyapu sekitar kandang, ember berfungsi untuk tempat pakan, sikat berfungsi untuk membersihkan lantai kandang, timbangan berfungsi untuk menimbang pakan, serok berfungsi untuk mengambil sampah atau kotoran, tandon berfungsi untuk menyimpan cadangan air, dan lampu berfungsi sebagai alat penerangan kandang. 

Artikel Terbaru

Arsip Blog